Memilih lokasi untuk Investasi Tanah

 Pergeseran gaya hidup ke arah modern dan tuntutan untuk mendapatkan hunian praktis, nyaman dan strategis di tengah kesibukan bisnis, menjadi alasan hunian vertikal, khususnya di tengah kota, kian diminati. Di tengah mulai tingginya kebutuhan itu, ini sekaligus menjadi peluang baru bagi para pengembang di Sumut. Memang belum banyak yang terjun ke segmen ini, peluangnya kini terbuka lebar.

Ketua DPD REI Sumut Tomi Wistan mengatakan, saat ini pengembang yang terjun di sektor hunian segmen vertikal sebagian besar ialah pengembang kelas kakap dengan nilai kapital yang besar. Maka, katanya, wajar saja pembangunan untuk hunian ini disebut sebagai megaproyek.

Karena selain investasi besar, dibutuhkan proses waktu yang tidak sebentar hingga masyarakat terbiasa dengan hunian vertikal. “Meski sudah mulai booming, namun belum seperti di kota-kota besar seperti Jakarta. Saya memprediksi, sekitar 5 – 10 tahun lagi barulah masyarakat Medan terbiasa dengan hunian vertikal seperti apartemen dan kondominium,” katanya.

Menurut Tomi, sejak lama REI sudah mulai mengarahkan pengembang untuk sektor hunian vertikal. Selain peralihan gaya hidup (lifestyle), pertimbangannya ialah lahan luas makin terbatas, harga tanah makin tinggi, arus lalu lintas yang begitu padat. Yang tidak kalah penting ialah penyediaan rumah bagi rakyat sesuai dengan program Menteri Perumahan Rakyat, yang sampai saat ini belum sepenuhnya terwujud seratus persen.

Untuk hunian segmen vertikal, kata Tomi, ada tiga segmen yang dapat disasar, yakni masyarakat yang membutuhkan rumah susun dengan harga di bawah Rp 200 juta. Sedangkan untuk apartemen dan kondominium ditujukan kepada kalangan masyarakat menengah ke atas.

Kalangan pembeli di kelas menengah ke atas dibagi atas dua varian, yakni hunian vertikal seharga Rp 500 juta ke atas atau di bawah Rp 1 miliar; dan hunian vertikal seharga Rp 1 miliar ke atas. Saat ini, dominasi apartemen dan kondominum di Medan masih di bawah Rp 1 miliar.

Cambridge Condominium di Jalan S Parman, merupakan hunian vertial di Medan yang harganya kini mencapai Rp 2 miliar ke atas. “Harganya terus naik. Ketika pertama kali diresmikan, harga dibuka mulai Rp 1 miliar,” kata General Manager Cambridge Condominium, Teddy Sinaga, dalam sebuah kesempatan. Harga itu sudah termasuk furniture, tempat tidur, ruang tamu, dapur dan perlengkapan mewah lainnya.

Inti Kota dan Fenomenal
Meski masih membutuhkan waktu, peluang bisnis bagi para pengembang untuk bermain di segmen hunian vertikal, cukup menjanjikan. Tomi menggambarkan, untuk hunian vertikal, seperti rumah susun sebenarnya tidak harus luas, seperti landed house. “Seluas 4000 m2 saja sudah cukup,” katanya

Akan tetapi, lokasi juga sangat menentukan. Ada dua lokasi yang berpeluang besar untuk dikembangkan, yakni kawasan inti kota dan kawasan pinggiran kota Ringroad Jl. Gagak Hitam hingga dan Jl. Ngumban Surbakti yang beralih menjadi kawasan bisnis.

Kawasan inti kota masih akan menjadi primadona. Selain strategis, cost untuk investasi sebenarnya hanya terpaut tipis dengan pembangunan landed house. Tomi memberi sekilas perbandingan. Anggap saja misalnya seorang pengembang membangun hunian vertikal di inti kota dengan harga tanah kisaran Rp 10 juta – 15 juta per m2; agak pinggiran Rp 6 juta – 10 juta per m2. “Kalau dibuat 10 tingkat (misalnya), kan hitungannya menjadi Rp 1 juta per meter. Paling yang kena biaya lebih di biaya bangunan. Jadi sebenarnya cost-nya bisa di-minimize,” jelasnya.

sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/12/18/